Riset Buktikan Jumlah Gaji Bisa Sebabkan Serangan Jantung

Image
Fluktuasi gaji paling tinggi ternyata berisiko dua kali lipat menyebabkan kematian dan penyakit seperti stroke, gagal jantung, atau serangan jantung | Pictasetex
AKURAT.CO, Ada ungkapan yang mengatakan 'uang tak bisa membeli segalanya'. Namun, riset terkini justru membuktikan uang ternyata bisa 'membeli' nyawa.

Setiap orang tentu berharap punya gaji atau pendapatan yang stabil dan terus naik seiring bertambahnya usia. Faktanya, jumlah pendapatan ini terkadang tak stabil karena kondisi perekonomian yang tak terprediksi.

Ketidakstabilan ini rupanya bisa mempengaruhi kesehatan, mulai dari kesehatan jiwa hingga penyakit fisik yang serius. Bahkan, sebuah riset baru-baru ini membuktikan gaji seseorang berpotensi meningkatkan risiko penyakit jantung dan kematian.

Dilansir dari Medical News Today, riset ini dimulai sejak tahun 1990 oleh The Coronary Artery Risk Development in Young Adults (CARDIA). Partisipan yang terlibat berasal dari kota Minneapolis, Chicago, Oakland, dan Birmingham. Mereka berumur 23-35 tahun saat riset ini pertama kali dimulai.

Para ilmuwan pun meneliti tingkat pendapatan partisipan melalui 5 penilaian di tahun 1990-2005. Setelah itu, mereka mengukur tingkat perubahan pendapatan itu dari waktu ke waktu. Dalam riset itu, mereka berfokus pada penurunan pendapatan, terutama penurunan sebesar 25 persen atau lebih dari tingkat pendapatan sebelumnya.

Setelah itu, mereka mencatat jumlah kejadian serangan jantung, baik yang berujung fatal maupun nonfatal. Tak hanya itu, kematian dengan sebab apapun di tahun 2005-2015 juga turut dicatat.

Terhitung ada 106 kejadian serangan jantung dan 164 kematian. Tim riset pun memeriksa berbagai faktor, seperti penyakit jantung yang memang sudah diderita dan latar belakang sosial kemasyarakatan.

Hasilnya, mereka yang jumlah gajinya fluktuatif lebih tinggi risikonya mengalami penyakit jantung, bahkan kematian.

Tingkat perubahan pendapatan yang paling tinggi ternyata berisiko dua kali lipat menyebabkan kematian dan penyakit seperti stroke, gagal jantung, atau serangan jantung.

Semua temuan ini diperbandingkan dengan mereka yang masuk dalam kategori yang sama, tetapi hanya mengalami sedikit perubahan pada jumlah pendapatan mereka.

Namun, masih belum jelas apa penyebab perubahan pendapatan ini bisa meningkatkan risiko penyakit jantung, bahkan kematian. Kemungkinan ketidakstabilan pendapatan ini mendorong seseorang melakukan hal yang tak sehat, seperti konsumsi minuman keras, kurang olahraga, stres, dan tekanan darah tinggi.

"Ketidakstabilan pendapatan ini bisa menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang serius, terutama kalau program pemerintah terus saja menggerus pendapatan," kata penulis utama riset ini, Tali Elfassy, PhD, di University of Miami Miller School of Medicine di Florida, Amerika Serikat.

Hasil riset ini kini sudah dipublikasikan dalam jurnal Circulation. []

Sumber : Akurat.co

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

NADIA MULYA DATANGI KPK

Jusuf Kalla Optimis Partisipasi Pemilih pada Pemilu 2019 Mencapai di Atas 75 Persen

Soal Mobile Legends, Rizal Ramli: Apa Pentingnya Buat Indonesia?